Friday, 15/12/2017, 02:59:57
My site
Welcome Guest | RSS
Site menu
Login form
Section categories
My files [20]
Search
Main » Files » My files

Kisah-kisah Sufi Teladan: Ini Pun Akan Berlalu
07/08/2009, 09:58:13
INI PUN AKAN BERLALU

Seorang sufi, yang telah mengembara mengarungi gurun sahara selama tujuh tahun lamanya akhirnya tiba di sebuah desa yang berpenghuni.

Desa ini terletak di tepi gurun pasir. Tanahnya kering dan gersang. Tidak ada pepohonan yang mampu tumbuh di sana selain kurma dan kaktus. Mata pencaharian utama penduduknya adalah beternak. Dari beberapa orang tua yang dijumpainya di ujung desa, ia mengetahui kalau desa itu bernama “Bukit Pasir.”

“Aku adalah orang asing di tempat ini,” kata sang sufi kepada mereka. “Maukah kalian menunjukkan kepadaku tempat penginapan di desa ini?”

Orang-orang tua itu saling berpandangan satu sama lain. Salah seorang di antaranya kemudian mengacungkan jarinya dan berkata, “Kami tidak mempunyai tempat seperti itu di sini. Tapi jika engkau memang membutuhkannya, aku yakin Syakir akan senang menerimamu sebagai tamu di rumahnya.”

Syakir adalah orang terkaya di desa tersebut. Orang-orang tua yang ditemuinya mengatakan kalau Syakir memiliki lebih dari 1000 ekor hewan ternak.

“Dan ini melebihi kekayaan Haddad yang tinggal di desa sebelah,” timpal salah seorang dari mereka.

Setelah mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka, sang sufi pun berpamitan untuk pergi ke rumah Syakir.

Di luar dugaan, Syakir ternyata seorang yang baik hati. Meskipun kaya-raya ia tidak sombong. Dengan ramah dimintanya sang sufi untuk tinggal di rumahnya yang megah. Isteri dan anak perempuannya dimintanya menjamu sang sufi dengan sebaik-baiknya. Seluruh kebutuhannya dipenuhi, mulai dari makanan, air, dan lain-lain. Semuanya disuguhkan kepadanya dengan berlimpah.

Tiga hari tiga malam sang sufi menginap di rumah Syakir. Pada hari ketiga, sang sufi pun berpamitan kepada Syakir sambil tidak lupa mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepadanya.

“Engkau memang seorang yang beruntung, sahabat,” kata sang sufi kepada Syakir, “Engkau memiliki kekayaan yang berlimpah dan keluarga yang saleh. Hanya Allah sajalah yang sanggup membalas semua kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku.”

“Ucapanmu memang benar, kawan,” kata Syakir, “Tapi ingat: Ini pun akan berlalu.”

Sang sufi tersentak mendengar kata-kata Syakir. Ia tidak tahu alasan Syakir mengucapkan kata-kata seperti itu. Ingin dipahaminya lebih jauh makna di balik ucapan itu, tapi nalurinya mengatakan untuk tetap diam dan tidak mencari tahu lebih banyak lagi. Ia lebih memilih melupakannya dan menyerahkan semua jawabannya pada kehendak takdir.

Selama tujuh tahun berikutnya sang sufi terus melanjutkan perjalanannya. Banyak tempat yang sudah dikunjunginya; banyak orang yang telah ditemuinya. Banyak peristiwa yang menghadirkan kesan mendalam pada jiwanya.

Pada suatu ketika, tanpa diduga sebelumnya, sang sufi tiba kembali di desa Bukit Pasir. Desa yang pernah dikunjunginya tujuh tahun silam. Ia teringat akan Syakir, sahabatnya. Dengan bergegas ia pun pergi ke rumah Syakir.

Tapi pemandangan yang disaksikannya di sana membuat sang sufi terheran-heran. Rumah Syakir yang dulunya megah kini tinggal reruntuhan saja. Semuanya telah musnah. Hewan ternaknya yang dulu berlimpah sekarang tidak tersisa seekor pun. Apa yang terjadi, pikirnya.

“Dua tahun yang lalu terjadi banjir besar di desa ini,” terang salah seorang penduduk desa, “Semua harta kekayaan Syakir hilang musnah. Sekarang ia tinggal di desa sebelah dan bekerja sebagai pelayan di rumah Haddad.”

Haddad? Ia masih ingat kalau Haddad adalah orang kaya lain yang tinggal di desa sebelah. Setelah mengucapkan terima kasih, sang sufi pun bergegas pergi ke desa sebelah menuju rumah Haddad.

Di sana ia kembali berjumpa dengan Syakir. Orang itu kini nampak berbeda dibandingkan dulu. Wajahnya terlihat tua. Tubuhnya kurus, dan pakaiannya pun terlihat kumal. Meskipun keadaannya sangat menyedihkan, Syakir masih tetap tidak berubah. Dimintanya sang sufi untuk menginap di rumahnya yang kecil yang ada di samping rumah Haddad yang besar. Isteri dan anak perempuannya pun dengan gembira menjamu sang sufi dengan menyuguhkan aneka macam hidangan dan minuman.

Tiga hari pun berlalu, sang sufi kembali berpamitan kepada Syakir. “Aku turut prihatin atas nasib yang menimpamu, sahabat,” katanya, “Tapi aku yakin kalau Allah pasti memiliki maksud dan rencana-Nya sendiri.”

“Oh, tentu, tentu, kawan,” jawab Syakir, “Tapi ingat: Ini pun akan berlalu.”

Sang sufi tersentak mendengar ucapan Syakir tersebut. Apa maksud Syakir mengucapkan kata-kata itu lagi. Kata-kata yang diucapkannya dahulu seolah-olah untuk mengantisipasi keadaan yang menimpanya sekarang. Kini, apa lagi maksudnya mengucapkan kata-kata seperti itu?

Seperti biasa, sang sufi memilih diam dan tidak berusaha mencari jawabannya saat itu juga. Ia lebih senang menyerahkan jawabannya kepada kehendak takdir. Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya, dan untuk sementara, terlupa dengan ucapan Syakir.

Tujuh tahun pun berlalu. Tanpa diduga, untuk kesekian kalinya sang sufi tiba kembali di desa Bukit Pasir. Ia sendiri heran dan tidak mengerti mengapa arah perjalanan yang ditempuhnya selalu membawanya kembali ke desa ini.

Untuk kesekian kalinya sang sufi kembali bertemu dengan Syakir. Syakir sekarang nampak berbeda dengan Syakir yang dulu. Ia kini tidak lagi tinggal di rumah pelayan yang kecil tapi berdiam di rumah Haddad yang besar. Wajahnya terlihat segar, pakaiannya pun nampak baru dan bersih.

“Beberapa tahun yang lalu Haddad meninggal dunia,” jelas Syakir kepada sang sufi, “Dan karena tidak memiliki seorang ahli waris pun, maka ia memutuskan untuk memberikan semua kekayaannya kepadaku sebagai balasan atas pengabdianku.”

Seperti biasa, selama tiga hari tiga malam lamanya sang sufi dijamu di rumah Syakir. Isteri dan anak perempuannya melayani sang sufi dengan sebaik-baiknya. Ketika tiba saatnya untuk berpisah, sang sufi berkata kepada Syakir, “Engkau memang sungguh beruntung, wahai sahabat. Allah telah mengganti semua kekayaanmu yang dulu hilang dengan yang lebih baik.”

“Tentu, tentu, kawan,” jawab Syakir, “Tapi ingat: Ini pun akan berlalu.”

Untuk yang kesekian kalinya sang sufi tertegun mendengar ucapan Syakir. Kata-kata yang diucapkan oleh orang itu sepertinya untuk mengantisipasi semua peristiwa yang terjadi di dalam kehidupannya. Apa lagi maksudnya mengucapkan kata-kata itu sekarang. Tapi seperti biasanya, ia menolak mencari jawabannya saat itu juga, dan memilih menyerahkan jawabannya kepada kehendak takdir. Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya, dan terlupa dengan ucapan Syakir di akhir pertemuannya tersebut.

Tujuh tahun lamanya sang sufi mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Didatanginya negeri India dan negeri-negeri lain yang sebelumnya tidak pernah ia kunjungi. Dan untuk yang kesekian kalinya pula, tanpa diduga, ia tiba kembali di desa Bukit Pasir!

Sang sufi sama sekali tidak mengerti mengapa arah perjalanannya senantiasa mengarah ke desa kecil yang terletak di tepi gurun ini. Ia teringat dengan sahabatnya, Syakir, dan ingin sekali berjumpa dengannya. Apa yang terjadi dengannya setelah sekian lama tidak bertemu.

Sang sufi pun bergegas pergi ke rumah Haddad untuk menemui Syakir. Tapi alih-alih bertemu Syakir dan keluarganya, ia malah menemukan orang lain di rumah itu. Apa yang terjadi?

“Syakir telah wafat beberapa tahun yang lalu,” terang salah seorang penduduk, “Kini ia dimakamkan di salah satu pemakaman yang ada di pinggiran desa.”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada orang itu, sang sufi pun pergi menuju tempat pemakaman. Di sana ia menemukan makam sahabatnya yang amat sederhana. Ia memutuskan untuk berdiam sebentar di sana sambil mendoakan dan merenungi kisah hidup sahabatnya yang unik tersebut. Dipandangnya nisan kayu kecil yang ada di ujung makam Syakir. Di situ tertera tulisan: Ini pun akan berlalu.

Sang sufi kaget bukan main membaca tulisan tersebut. Jauh lebih kaget daripada saat ia mendengarnya langsung dari mulut Syakir. Apa maksud Syakir menuliskan kata-kata tersebut di atas nisannya. Kekayaan memang datang dan pergi, pikir sang sufi, tapi bagaimana mungkin sebuah makam bisa berlalu?

Untuk menemukan jawabannya, sang sufi bertekad untuk mengunjungi makam sahabatnya tersebut setiap tahun. Pada tahun pertama dan kedua, tidak ada hal ganjil yang terjadi di sana. Tapi pada kali ketiga ia berkunjung ke sana, tidak ada lagi makam maupun nisan yang tersisa. Semuanya lenyap, rata dengan tanah.

“Beberapa bulan yang ada terjadi longsor besar di pemakaman ini,” kata salah seorang penduduk desa, “Semua makam yang ada di sini hilang tersapu oleh tanah.

Sang sufi terdiam mendengar kata-kata itu. Ia seolah menemukan jawaban atas maksud semua ucapan Syakir selama ini. Timbul kesadaran baru di dalam jiwanya. Tangannya mengepal kuat, dan sambil menengadah ke langit, ia pun berucap lirih: Ini pun akan berlalu.

Tahun demi tahun berlalu. Sang sufi yang telah beranjak tua memutuskan untuk menghentikan pengembaraannya dan tinggal menetap di satu tempat. Di sana ia mendirikan sebuah sekolah. Banyak murid-murid yang datang berguru kepadanya. Namanya menjadi sangat terkenal hingga kemana-mana.

Pada suatu hari, raja yang berkuasa di sana jatuh sakit. Penyakit sang raja benar-benar aneh. Ia merasa berduka tanpa tahu penyebabnya. Ia sama sekali kehilangan minat dan hasratnya untuk melakukan apapun. Jiwanya terasa hampa dan kosong. Dipanggilnya tabib-tabib dari seluruh penjuru dunia untuk menyembuhkan penyakit sang raja, namun tidak ada seorang pun yang kuasa. Akhirnya dibuatlah sebuah sayembara. Raja ingin dibuatkan sebuah cincin yang bisa membuatnya tertawa di kala ia sedih, dan membuatnya tidak lupa diri di saat ia merasa gembira. Berlomba-lombalah para pandai besi dari seluruh negeri membuat cincin tersebut. Namun tidak ada satu pun yang sanggup memenuhi keinginan sang raja. Setengah putus asa, perdana menteri kerajaan kemudian mengirim surat kepada sang sufi untuk meminta nasihat darinya. Sang sufi memberikan jawabannya lewat surat juga. Di dalamnya terselip sebuah cincin. Sang perdana menteri segera membawanya ke hadapan raja. Mula-mula sang raja memandang cincin tersebut dengan perasaan enggan. Sorot matanya tampak kosong. Tapi tidak lama kemudian, bibirnya mulai menyunggingkan senyum. Matanya kembali bersinar. Dan sejurus kemudian raja itu pun tertawa dengan kerasnya. Di cincin tersebut tampak terukir tulisan: Ini pun akan berlalu.

TAMAT

Masalah memang akan senantiasa ada; setiap detik, setiap saat;
tapi, seperti waktu; mereka pun pasti akan berlalu.

Category: My files | Added by: fordeal
Views: 4398 | Downloads: 0 | Comments: 9 | Rating: 1.5/4
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Customer Support
>
Copyright MyCorp © 2017Powered by uCoz